SIGERMEDIA.COM – Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi mengungkapkan fakta terkait polemik rencana impor 3 juta ton garam. Ia memastikan bahwa impor 3 juta ton garam untuk memenuhi kebutuhan industri, dan bukan untuk konsumsi.

Baca Juga : Resmi Dirinya Laki-Laki, Aprilio Manganang: Ini Yang Saya Tunggu

“Jadi yang kita bicarakan sekarang ini adalah garam hasil impor untuk kebutuhan industri.” Kata Lutfi, saat konpers pada, Jum’at (19/3/2021).

Baca Juga : Dianggap Efektif, PPKM Mikro Diperpanjang 14 Hari Oleh Pemerintah

Lutfi mengungkapkan bahwa kualitas garam produk dalam negeri belum mampu mengikuti standar kebutuhan industri, sehingga industri butuh garam impor.

Baca Juga : Menolak Sidang Online, Habib Rizeq Berdebat Dengan Hakim

“Garam kita dikerjakan oleh PT Garam dan oleh petani. Garam rakyat ini belum bisa menyamai kualitas untuk garam industri tersebut.” Ungkapnya.

Baca Juga : Menkominfo Himbau Masyarakat Agar Tak Pamer Sertifikat Vaksinasi Covid-19 Di Medsos

Salah satu industri yang membutuhkan garam impor adalah para produsen mie instan. Menurutnya, bila mie instan diolah menggunakan garam biasa, mie tersebut bisa hancur.

Baca Juga : Menteri Nadiem Menargetkan Pembelajaran Tatap Muka Dilakukan Juli 2021, IDI: Setuju!

“Saya ceritakan sedikit. Ada masalah dimasa lampau. Kalau anda tahu, mie instan itu harganya kira-kira Rp. 2.500. Nah, itu didalam Rp. 2.500 itu ada harga garamnya. Ongkos untuk garamnya itu Rp 2. Tapi kalau garamnya tidak sesuai spek untuk insdustri, garam yang Rp 2 itu bisa menghancurkan mie instan yang Rp. 2.500 itu. Inilah yang sekarang menjadi permasalahannya.” Terang Lutfi.

Baca Juga : Menteri KKP Jamin Pasokan Ikan Aman Selama Bulan Ramdhan

“Nah, sekarang apa yang mesti kita kerjakan untuk bisa swasembada, bukan jumlahnya saja yang mesti kita penuhi, tetapi juga kualitasnya. Nah, ini yang semestinya industri nasional itu bisa melihat opportunity atau kesempatan untuk memperbaiki struktur industri garam Indonesia.

Tetapi balik ya, ini kan urusan saya di perdagangan, bukan di perindustrian. Jadi kalau boleh, karena ini urusannya industri, tanya ke Pak Agus Gumiwang.” Tambahnya.

Baca Juga : Sudah Tau? Ternyata Sunscreen Dan Sunblock Berbeda Lho!

Disisi lain, Direktur Riset Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Piter Abdullah angkat bicara mengenai hal ini. Menurutnya, keputusan pemerintah yang akan impor 3 juta ton garam tidak akan merugikan petani lokal.
“Kalau garam impor ini tidak masuk ke pasar garam konsumsi, maka petani garam lokal tidak akan dirugikan. Jadi beda pasar.” Ujar Piter, dikutip dari merdeka.com, Jum’at (19/3/2021).

Kontributor – Ariski S
Editor – Devi Ari L