SIGERMEDIA.COM – Presiden Joko Widodo menyinggung soal bahaya predatory pricing saat membuka Rapat Kerja Nasional XVII, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) pada Jum’at (5/3) di Istana Kepresidenan, Bogor.

Predatory Pricing membuat Presiden gerah. Pasalnya predatory pricing saat ini semakin banyak dilakukan oleh para pelaku usaha perdagangan produk asing yang dijual melalui e-commerce. Produk tersebut dijual dengan harga murah dan merugikan para pelaku usaha kecil (UMKM).

Baca Juga : Daya Beli Belum Pulih, Bagaimana Nasib Harga Bahan Pokok Jelang Ramadhan?

Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) No. 6 Tahun 2011 tentang Pedoman Pasal 20 (Jual-Rugi) UU. No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, dijelaskan bahwa predatory pricing adalah salah satu bentuk perilaku anti persaingan yaitu dengan melakukan jual rugi atau menetapkan harga yang sangat rendah untuk menyingkirkan atau mematikan usaha pesaingnya di pasar bersangkutan.

Baca Juga : Sebentar Lagi Ramadhan, Kenali Cara Menentukan Awal Ramadhan Metode Hisab Dan Rukyat

Sehingga konsep predatory pricing ini adalah melakukan jual rugi untuk menyingkirkan pesaingnya demi mempertahankan posisinya sebagai monopolis atau dominan.

Untuk jangka pendek, konsumen merasa untung dan menikmati harga barang dan jasa yang rendah. Namun jangka panjangnya, saat para pesaing telah tersingkir, pelaku usaha predatory pricing akan kembali menaikkan harga tersebut.

Hal ini menjadi salah satu yang melatarbelakangi Presiden akhir-akhir ini menggaungkan untuk membenci produk asing dan mencintai produk lokal.

“Produk dalam negeri gaungkan. Gaungkan juga benci produk luar negeri. Sehingga betul-betul masyarakat kita menjadi konsumen yang loyal, sekali lagi untuk produk Indonesia.” Tutur Jokowi.

Preside Jokowi juga mengatakan bahwa Indonesia bukan bangsa yang menganut proteksionisme, namun Indonesia juga tidak akan menjadi korban praktik perdagangan yang tak adil.

“Saya tegaskan, kita bukan bangsa yang menyukai proteksionisme. Karena sejarah membuktikan kalau proteksionisme itu justru merugikan,” Tegasnya.

Presiden Jokowi mengatakan bahwa saat ini banyak praktik predatory pricing. Terlebih jika praktik ini lekat kaitannya dengan e-commerce.

Menanggapi hal tersebut, Handhika Jahja, Executive Director Shopee mengatakan bahwa Shopee selalu bekerja sama dengan pemerintah dalam upaya mengembangkan dengan mengikuti peraturan yang berlaku.

“Shopee selalu bekerja sama dengan idEA (Asosiasi E-commerce Indonesia) untuk memberi tanggapan satu suara dari seluruh pelaku industri perihal kebijakan baru.” Tutur Handhika, dikutip dari Republika pada Jum’at (5/3/2021).

Sementara itu, Bima Laga, Ketua idEA mengungkapkan bahwa pihaknya akan melakukan pengkajian lebih lanjut. “Terkait masalah predatory pricing, kami akan lakukan pengkajian lebih lanjut.” Ungkapnya.

Kontributor – Ariski S